Labels

Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Tuesday, 1 March 2016

Objek Wisata Tana Toraja Tempat Wisata Terbaik Di Sulawesi Selatan

Objek Wisata Tana Toraja | Pada kesempatan kali ini Twisata akan mengulas mengenai keindahan tempat wisata di Sulawesi Selatan tepatnya di Tana Toraja. Destinasi ini memang sangat menarik untuk dikunjungi, budayanya yang masih kental membuat magnet tersendiri bagi para wisatawan baik itu yang berasal dari dalam maupun luar negeri. memang bagi Anda yang baru mengunjungi Tana Toraja kesan mistis sangat terasa, tetapi dibalik itu semua pemandangan alam yang ada di Tana Toraja akan membuat Anda terhipnotis dan ingin berlama - lama menikmatinya.
Secara geografis Tana Toraja merupakan sebuah kabupaten yang berada di kawasan provinsi Sulawesi Utara, dan ibukota dari Tana Toraja berada di Makale. Masyarakat suku Toraja sendiri masih memegang teguh keyakinan dan gaya hidup yang khas mirip sekali dengan budaya yang ada di Nias, yang menjadikan Tana Toraja menjadi salah satu situs warisan budaya dunia yang terdaftar di UNESCO.

Masyarakat Tana Toraja sendiri banyak menggelar upacara adat yang didalamnya menyuguhkan berbagai tarian serta atraksi yang sangat menarik, dan bagi Anda pencinta seni pastinya tidak menyianyiakan kesempatan tersebut. selain itu disini juga terdapat rumah adat yang sangat unik yang hanya ada di Tana Toraja.

Menurut cerita legenda yang menyebar di masyarakat suku Toraja, leluhur dari suku toraja sendiri berasal dari manusia yang turun dari nirwana dengan menggunakan tangga dari langit menuju bumi. oleh karena itu mereka percaya bahwa tangga tersebut bisa berfungsi untuk media pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ( Puang Matua ).
Sementara menurut seorang anthtropolog yang bernama DR. C. CYRUT yang melakukan penelitian mengenai suku Toraja, didapat kesimpulan bahwasannya  masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari akulturasi penduduk asli yang bermukim di daratan yang ada di Sulawesi Selatan dengan pendatang atau imigran dari Teluk Tongkin / Dataran Cina. Proses alkuturasi tersebut berawal dari perpindahan penduduk Indo Cina dengan jumlah yang sangat banyak yang diperkirakan menempati daerah Enrekang, dan kemudian mereka membangun tempat bermukim di daerah tersebut.
Pada mulanya nama Toraja diberikan oleh masyarakat suku Bugis Sidendereng dan dari Luwu, Masyarakat Sidendreng menyebut penduduk daerah ini dengan To Riaja yang artinya "Orang yang bermukim di pegunungan atau negeri atas", berbeda dengan orang Luwu yang menyebut penduduk daerah ini dengan To Riajang yang mempunyai arti " Orang yang mendiami atau bermukim di sebelah barat ". Versi lainnya adalah sebutan Toraya yang mempunyai arti " Bangsawan ". Kemudian seiring berjalannya waktu istilah tersebut berubah menjadi Toraja dan kata Tana sendiri berarti negeri, kemudian dikenal dengan Tana Toraja.
Itulah sejarah singkat mengenai asal muasal nama Tana Toraja, yang diambil dari berbagai sumber.
Rute Perjalanan Menuju Tana Toraja
Bagi Anda yang ingin mengunjungi Tana Toraja ada dua alternatif yang bisa Anda tempuh yaitu dengan menggunakan mode transportasi darat dan juga udara. dan apabila Anda berasal dari luar kota Anda bisa transit di Kota Makasar terlebih dahulu, karena untuk sementara jalur penerbangan yang bisa dijangkau oleh pesawat dari kota - kota besar di Indonesia adalah Bandara Sultan Hasanuddin - Makasar.

Untuk perjalanan dengan menggunakan transportasi darat dan dimulai dari Kota Makasar - Sulawesi Selatan. Anda bisa menggunakan transportasi umum yaitu bus antar propinsi yang bisa Anda temui di terminal Bus Daya'. Bus ini dilengkapi dengan fasilitas yang bagus seperti pendingin ruangan, kamar kecil serta kursi yang nyaman, sangat cocok sekali untuk perjalanan jarak jauh. Biasanya bus ini akan berangkat pada jadwal yang telah ditentukan. Selain itu Anda juga bisa menggunakan transportasi alternatif lain dengan menyewa kendaraan menuju Tana Toraja. Waktu yang ditempuh untuk menuju Tana Toraja sekitar 6 - 8 jam perjalanan dan sangat disarankan untuk melakukan perjalanan pada siang hari, karena Anda akan dapat menikmati keindahan alam pegunungan, sawah yang membentang serta panorama pantai yang dapat mengobati rasa jemu selama perjalanan.
Rute yang akan Anda lewati selama perjalanan dengan menggunakan transportasi Darat antara lain Anda akan menyusuri beberapa kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, diantaranya adalah kota-kota Maros, Pangkep, dan Barru. Disini perjalanan Anda akan berhenti sejenak untuk beristirahat setelah itu dilanjutkan menuju kota Pare - Pare, Sidendreng, Enrekang dan kemudian sampailah Anda di Kabupaten Tana Toraja.
Kemudian apabila Anda menggunakan mode transportasi udara, Anda dapat memulainya dari bandara Sultan Hasanuddin - Makasar dengan menggunakan Pesawat Dirgantara Air Service ( DAS ) menuju bandara Pongtiku di Rantetayo dengan waktu perjalanan kurang lebih 45 Menit. Kedepan pemerintah setempat akan membangun bandara yang lebih besar yang berada di Mengkendek, sehingga para pengunjung dari luar kota dapat langsung transit di bandara tersebut tanpa melalui bandara Sultan Hasanuddin di Makasar.
Kegiatan Yang Bisa Dilakukan di Tana Toraja
Disini Anda dapat berkeliling ke Lemo, Londa dan Tampang Allo, dimana di kawasan tersebut Anda dapat melihat pemakaman yang sangat unik yang sangat terkenal bahkan sampai di dunia internasional. Pemakaman tersebut berbentuk gua - gua yang terletak di dinding berbatu dan gua - gua tersebut banyak dipenuhi dengan peti mati serta tulang - tulang manusia, memang menurut kita kadang aneh, akan tetapi itulah keunikan dari budaya dari masyarakat Tana Toraja.


Apabila Anda berkunjung ke Tana Toraja pada bulan Juni, Juli, atau Desember, Anda dapat menyaksikan para penjagal melakukan penyembelihan puluhan babi dan kerbau secara kolosal. Dan Anda juga dapat melihat bagaimana keunikan serta sakralnya budaya atau adat istiadat dari Tana Toraja. Kerbau dan babi sendiri merupakan hewan yang dijadikan kurban untuk upacara kematian di tempat ini. Menurut keyakinan dari masyarakat Toraja hewan - hewan tersebut merupakan sarana transportasi menuju puya bagi para arwah manusia yang meninggal dunia.
Di Tana Toraja ada upacara adat untuk menghirmati orang yang meninggal dunia dengan menggelar sebuah pesta dan menyembelih puluhan ekor kerbau dan babi. Upacara ini dekenal dengan upacara adat kematian Rambu Solo'. Pesta ini biasanya digelar selama satu malam atau bahkan sampai tujuh malam tergantung dari status sosial dalam tradisi masyarakat Toraja.
Disamping itu apabila Anda ingin melihat tempat tinggal atau rumah khas orang Toraja yaitu Tongkonan yang dihiasi dengan indah dan dilengkapi dengan lumbung padi, Anda bisa mengunjugi Desa Ke'te Kesu'. Disini banyak terdapat deretan Tongkonan yang bentuknya atapnya mirip dengan pelana. Atap dari rumah khas masyarakat Toraja terbuat dari bambu yang dibelah dan tersusun bertumpuk. tetapi seiring perkembangan jaman atap dari rumah khas masyarakat Tana Toraja banyak menggunakan seng sebagai bahan pembuatnya. Tongkonan sendiri mempunyai jenis yang berbeda - beda yang disesuaikan dengan derajat kebangsawanan pemiliknya. kemudian pada dinding - dindingnya dihiasi dengan pola abstrak dan geometris berwarna putih, merah dan hitam alami. di Ke'te Kesu juga bisa Anda temui pengrajin ukiran bambu dan berbagai macam kerajinan tradisional lainya.
Kemudian apabila Anda mengunjungi kawasan Lemo, Anda dapat melihat kuburan yang diletakan menggantung di dinding yang merupakan kuburan khusus bagi para bangsawan. Kawasan ini disebut dengan Lemo karena di tempat ini terdapat gua batu yang ukuranya sangat besar dan berbentuk bundar, bentuknya mirip dengan buah jeruk dan pada liang - liangnya membentuk bintik - bintik seperti halnya buah jeruk. Disini juga terdapat kuburan ketua adat yang bernama Songgi Patalo yang berumur sekitar 500 tahun.
Kemudian apabila Anda melanjutkan kunjungan ke Suaya, Anda akan menemukan makam keluarga raja, kemudian didekat Sangala Anda akan menemukan kuburan pohon bayi. Menurut kepercayaan masyarakat Toraja sendiri apabila ada bayi atau anak - anak yang meninggal maka harus dikubur di pohon, dan pohon tersebut akan tumbuh disekitar. Selain itu apabila Anda berkunjung ke Palawa, Anda akan menemukan pusat kerajinan tenun khas Toraja, yang juga terdapat Tongkonan serta kawasan penguburan, tempat upacara dan festival yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar.

Tidak hanya itu, kunjungan Anda bisa dilanjutkan ke Batu Tumonga yag berada di lereng Gunung Sesean yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Rantepao. Disini Anda dapat menyaksikan keindahan alam persawahan yang berbentuk terasering dan banyak terdapat bebatuan.
Itulah kegiatan yang bisa dilakukan selama Anda mengunjungi objek wisata yang ada di Tana Toraja
Oleh – Oleh dan Kuliner Dari Tana Toraja
Untuk urusan yang satu ini Tana Toraja juga menyimpan banyak sekali oleh - oleh dan makanan khas yang bisa mengobati rasa penasaran Anda terhadap keunikan yang dimiliki oleh Tana Toraja. Untuk kuliner Anda bisa mencoba menyicipi Deppa Tori yang merupakan kue khas dari tanah toraja, rasanya yang gurih dan bentuknya yang unik akan memanjakan lidah Anda selama menikmatinya, selain itu Anda juga bisa menikmati Pa'piong yang terbuat dari daging ayam, babi, ikan dan beras serta dibungkus dengan bambu kemudian dibakar. disamping itu kuliner lainya adalah Tollo Pammasaran  serta Kopi Toraja


Kemudian untuk oleh - oleh atau souvenir yang bisa Anda dapatkan apabila mengunjungi Tana Toraja adalah miniatur rumah khas Tana Toraja, berbagai macam kiran, kain tenun, kaos khas Toraja, Aneka Aksesoris & Kerajinan Unik, semua itu bisa Anda dapatkan disini.
Bagaimana menarik bukan, dan dijamin Anda akan merasa ketagihan untuk menikmati kuliner khas dari Tana Toraja tersebut.
 Tips Berwisata Ke Tana Toraja
1. Memakai Pakaian Adat
Untuk menghormati aturan adat istiadat dari masyarakat Toraja, sebaiknya Anda menggunakan pakaian adat khas Toraja.
2. Hati - Hati Saat Masuk  Ke Tongkonan
Karena rumah khas Tana Toraja memiliki lorong yang rendah, sebaiknya perhatikan kepala Anda saat memesuki rumah tradisional tersebut.
3. Pilih Bulan Yang Tepat
Untuk mengunjungi Tana Toraja disarankan untuk memilih liburan Anda pada bulan Mei dan Oktober karena pada bulan - bulan ini cuaca yang ada disini  sangat baik.
4. Bawa Perlengkapan Kamera
Untuk urusan yang satu ini jangan sampai ketinggalan, perseiapkan perlengkapan kamera Anda sebelum mengunjungi Tana Toraja agar bisa mengabadikan moment berharga selama mengunjungi lokasi wisata di Tana Toraja.
Itulah ulasan mengenai objek wisata Tana Toraja yang merupakan destinasi wisata terbaik di Sulawesi Selatan Indonesia. semoga ulasan diatas bisa bermanfaat bagi Anda yang akan mengunjunginya.


Monday, 4 May 2015

Wisata Air Terjun Matabuntu Luwu Timur


Air Terjun Matabuntu atau juga dikenal nama lain Air Terjun Meruruno memiliki undak-undakan terjunan air sekitar 33 susun yang terbentuk secara alami.  Meski jumlah tingkatan sebenarnya mencapai puluhan, hanya ada sekitar 6 undakan yang paling tinggi.  Air terjun ini tersembunyi di antara lebatnya pepohonan yang menyelimuti kawasan ini.  Airnya yang mengalir ke Sungai Tumbura diantara bebatuan kapur di lereng Gunung Lembeonga. 

Keunikan di obyek wisata ini adalah di undakan paling atas dapat ditemui sebuah batu berbentuk alat kelamin pria yang konon dipercaya dapat membantu bagi pasangan yang belum dikarunia anak, adapula yang meyakini sebagai tempat mengikat janji bagi pasangan muda mudi.  Sayangnya lokasi ini belum dikelola secara maksimal.
Lokasi

Terletak di Desa Matabuntu, Kecamatan Wasuponda, 
Kabupaten Luwu Timur, Propinsi Sulawesi Selatan. 

Akses

Berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Wasuponda atau sekitar 30 menit perjalanan dengan berkendaraan.  Jika dari kota Soroako berjarak 30 km.  Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat menyusuri perkebunan dan persawahan dengan kondisi jalan sebagian sudah beraspal.  Selebihnya jalan tanah yang kurang keras dan bergelombang sehingga dikala hujan pasti licin.  Selain itu jalanan ini agak sempit dan harus berhenti jika 2 buah mobil berpapasan.  Juga penunjuk jalan menuju ke lokasi belum tersedia sehingga cukup merepotkan.

Selanjutnya dari perhentian kendaraan terakhir, diteruskan mengikuti jalan setapak menembus hutan dan agak mendaki.

Monday, 27 April 2015

WISATA DI TANA TORAJA


Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata Indonesia, dihuni oleh Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli dan mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan yang sangat menarik dan tidak boleh anda lewatkan.
 

Berikut ini adalah daftar beberapa tempat menarik yang mungkin bisa anda kunjungi :

Pallawa.
Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohin banbu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 Km ke arah utara dari Rantepau. 
 

Londa.
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 Km ke arah selatan dari Rantepau.


Ke’te Kesu.


 Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepau.

Batu Tumonga.

Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki ketinggian sekitar 2 – 3 meter. Dari tempat ini anda dapat melihat keindahan rantepau dan lembah sekitarnya. Terletak di daerah Sensean dengan ketinggai 1300 Meter dari permukaan laut.


Lemo.



 Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo anda dapat melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui upacara Ma Nene. Terletak di Kabupaten Tan Toraja.

Friday, 24 April 2015

SUKU TORAJA INDONESIA

Suku Toraja Indonesia adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.   Mayoritas suku Toraja Indonesia memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
 Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Ada pula yang mengatakan bahwa Toraja berarti orang keturunan raja. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja Indonesia terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja Indonesia merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Ritual ini merupakan upacara penghormatan terakhir bagi orang yang telah meninggal. Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa- desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, Misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog.
 Masyarakat Suku Toraja Indonesia sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.[5] Identitas etnis Suku Toraja Indonesia memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja Indonesia, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi. “Toraja” (dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran tinggi. [3] Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih banyak memiliki hubungan perdagangan dengan orang luar—seperti suku Bugis dan suku Makassar, yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi—daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa’dan Toraja, dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama—suku Bugis (kaum mayoritas, meliputi pembuat kapal dan pelaut) , suku Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar (pedagang dan nelayan), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).

Mata air panas Makula

MATA air panas Makula telah diolah menjadi obyek wisata yang menarik dan banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun asing. Tak lengkap bila tak ke Makula. Nyaman sekali mandi air panas alam di tengah suhu Toraja yang dingin.

Makula terletak di Sangalla, sekitar 24 kilometer sebelah selatan kota Rantepao atau lima enam kilometer di sebelah barat kota Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Terdapat tiga sumber air panas di Makula yang letaknya saling berdekatan. Di sekitar mata air itu, berdiri beberapa rumah peristirahatan. Pengelolanya sengaja menyediakan kolam-kolam untuk menampung air panas yang dialirkan dari sumbernya. Sambil menikmati keindahan alam di Sangalla, wisatawan dapat berendam air hangat sepuasnya.

Air panas itu muncul dari batu gamping dan batu pasir yang mendominasi struktur tanah Sangalla. Temperatur tertinggi air itu 43,6 derajat celcius pada temperatur udara 22,1 derajat celcius. Sumber panas diperkirakan berasal dari kantung magma di bawah Bukit Kaero. Energi panas merambat melalui bebatuan.

Wisata pemandian air panas (hangat) Makula dapat dicapai dari Rantepao maupun Makale dengan kendaraan pribadi atau fasilitas mobil yang disediakan hotel.

Thursday, 23 April 2015

Tao-tao, Patung-patung Penghias Makam Batu Toraja


Tidak selalu pemakaman hanya berhiaskan batu nisan dan berada di dalam tanah. Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, jenazah dimakamkan di atas tebing batu berhiaskan patung pahat bernama Tao-tao, sebagai simbol orang yang meninggal.
Pemakaman pada umumnya memang berada di tanah dan hanya berhiaskan batu nisan. Pemakaman seperti ini pun diyakini karena manusia berasal dari tanah dan harus kembali ke tanah. Namun, kepercayaan lain tumbuh di Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Suku Toraja yang tinggal di utara Makalele, Sulawesi Selatan, mempercayai bila letaknya makam lebih tinggi maka semakin dekat dengan Tuhan. Oleh sebab itulah, mereka membangun makam di atas tebing batu yang dikenal dengan nama Makam Batu Lemo. 
Walaupun menyeramkan, perpaduan aura kematian, ritual dan seni terlihat di makam unik ini. Wisatawan dapat melihat di beberapa lubang makam tersebut terdapat patung-patung pahat berbetuk manusia utuh. Menyeramkan sudah pasti, tapi inilah yang membuatnya terlihat unik.
Patung-patung pahat ini dinamakan Tao-tao. Tao-tao dibuat sebagai simbol atau gambaran yang orang yang terbenam di lubang tersebut. Ya, tidak semua lubang memiliki Tao-tao alias hanya lubang-lubang tertentu. Keberadaan Tao-tao hanya diperuntukan bagi kaum bangsawan dan tetua adat saja.
Konon, kuburan yang berada di bukit batu ini merupakan tertua kedua setelah Songgi Patalo. Kalau melihat dari luar di tebing batu ini terdapat 75 lubang kuburan berukuran 3 x 5 meter. Anehnya, satu lubang itu berisikan untuk satu keluarga.
Adanya, pemakaman ini mampu menarik perhatian wisatawan mancanegara atau domestik untuk melihat secara langsung keunikan makam tersebut. Saking istimewanya, sebelum ziarah ke makam ini ada peraturan waktu yang harus diperhatikan saat melakukan ziarah. Peziarah hanya boleh melakukan pembukaan pintu makam pada waktu sebelum dan sesudah panen. Kalau tidak, akan berakibat buruk di kemudian hari.
Jangan sampai kedatangan Anda untuk menyaksikan keunikan makam batu ini justru menimbulkan petaka dengan melanggar peraturan yang ada. Bisa membuat gagal panen masyarakat Toraja atau malah mendapat sanksi untuk menebus pelanggaran tersebut dengan cara mengadakan upacara penyembelihan beberapa ekor babi untuk menolak kejadian buruk.

Londa, Menikmati Kuburan dari Balik Lensa

Secara kebetulan karena beberapa destinasi wisata kuburan alam Toraja letaknya berdekatan dan bisa dijangkau dalam sehari, maka dalam satu kunjungan saya sengaja mengatur jadwal kunjungan bersama tiga orang kawan ke kuburan
Tak ada angkutan umum yang melayani trayek ke Londa tapi ada jasa ojek yang bisa digunakan dengan ongkos Rp 5,000/ojek. Hanya saja bagi kami berempat tetap lebih seru berjalan kaki! Lagipula ‘gak terlalu jauh koq untuk sampai di kawasan wisatanya. Dari jalan besar berjarak sekitar 1,8 km, dengan berjalan santai 10 - 15 menit sudah sampai. Karena sepanjang perjalanan alamnya memikat, kami pun beberapa kali berhenti mengabadikan atau sekedar menghirup udara segarnya.
Saat lagi asik menikmati alam, kami berpapasan dengan seorang pejalan yang baru kembali dari Londa. Anton namanya, dia dari Kalimantan dan sedang menjalankan misi seorang pejalan menyusuri Sulawesi dari Utara hingga Selatan. Sebagai sesama pejalan tanpa terasa kami mengobrol akrab sembari menunggu tiga kawan yang asik memotret di bibir sawah. Karena dirinya hanya transit sehari di Toraja sebelum bertolak ke Pare-pare dengan bis malam, saya sarankan untuk mengunjungi upacara Rambu Solo’ (=upacara kematian) yang sedang berlangsung di desa Malakiri. Tempatnya tak jauh dari Rantepao, ibukota Toraja Utara dan yang terpenting momen kunjungannya menjadi lengkap. Setengah perjalanan, kami iseng menyetop sebuah kijang yang melaju dengan santai dan mendapat tumpangan gratis hingga ke pelataran Londa.
Londa adalah kuburan alam dari masa lampau yang diperuntukkan bagi kaum bangsawan dengan dua buah gua besar yang bisa dimasuki oleh pengunjung tempat menyimpan peti mati, tengkorak serta tulang belulang manusia. Dahulu kala Londa yang berada kawasan bukit Patabang Bunga ini adalah titik pertahanan bangsawan Toraja dari serangan Kerajaan Bone, sehingga untuk mengantisipasi serangan dibangunlah sebuah benteng pertahanan di punggung bukit yang dikenal dengan Benteng Tarangenge.
Patung atau tau-tau, sebuah replika dari mereka yang telah meninggal berjejer rapi di singgasananya menyambut kedatangan pengunjung. Ukuran tau-tau sesuai dengan aslinya dan didandani layaknya si empunya semasa hidupnya. Ada yang memegang tongkat, mengenakan kaca mata, membawa kantong sirih dan lain-lain. Tidak semua yang meninggal memiliki patung, hanya golongan bangsawan yang prosesi pemakamannya diawali dengan upacara adat tertinggi yang berhak dibuatkan patung tersebut.
Di bagian luar gua pengunjung akan menjumpai beberapa peti mati model kuno yang digantung di dinding ataupun diletakkan begitu saja di atas tanah, diletakkan sesuai dengan strata sosial dari yang meninggal. Peti mati ini disebut erong dengan 3 (tiga) bentuk dan fungsinya masing-masing: rumah adat (=untuk keturunan bangsawan), kerbau (= untuk laki-kali) dan babi (= untuk perempuan). Semakin tinggi status sosialnya, semakin tinggi pula letak erong-nya.
Tertantang untuk melihat lebih dekat ada apa di dalam gua? Jangan sia-siakan kesempatan itu! Kedalaman gua +/- 1000 meter, dapat diakses dengan bantuan penerangan lampu petromaks yang bisa disewa di depan pintu masuk seharga Rp 25,000/lampu sudah termasuk pemandu. Meski telah membawa headlamp kami tetap menyewa sebuah lampu petromaks untuk mengantisipasi sumber cahaya saat memotret. Dan, kami beruntung mendapatkan paket sewa lampu dengan pemandu yang cukup informatif dalam berbagi kisah seputar kuburan Londa.
Puas keluar masuk di dua gua yang ada, kami beristirahat sejenak di bangku-bangku yang terbuat dari batu di pelataran taman kecil di depan mulut gua. Di pelataran ini cukup sejuk menikmati panorama Londa. Untuk kembali ke gerbang utama, kami sengaja memilih jalan memutar dan meniti undakan yang lebih banyak sembari mampir di gerai pengrajin untuk melihat buah tangan khas Toraja

 

RITUAL RAMBU SOLO TORAJA

Perayaan upacara adat di Indonesia sangat banyak mengingat banyaknya kebudayaan dan daerah di Indonesia. Upacara tersebut menjadikan negeri ini semakin kaya dengan budaya yang harus dilestarikan. Salah satu upacara adat yang dinilai unik adalah Ritual Rambu Solo Toraja yang merupakan upacara adat kematian bagi warga Suku Toraja Kabupaten Tanah Toraja Sulawesi Selatan. Ritual ini sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia bahkan Mancanegara.
Upacara Rambu Solo Toraja ini menjadi kewajiban bagi masyarakat suku Toraja sebagai bukti penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal. Dalam upacara ini, ada keunikan yang diyakini masyarakat, terutama dalam prosesi pembuatan patung atau boneka kayu. Patung atau boneka yang dibuat tersebut dibuat untuk kemudian diletakkan di tebing dan diyakini semakin hari semakin mirip dengan orang yang telah meninggal tersebut.
Upacara Ritual Rambu Solo Toraja tersebut didasarkan atas kepercayaan Aluk Todolo yang merupakan Agama pertama yang dianut masyarakat suku toraja untuk menghormati serta menghantarkan arwah orang meninggal ke alam roh. Di alam roh itulah diyakini mereka akan menemukan Puya, tempat peristirahatan terakhir yang berada di selatan tempat tinggal manusia. Jika Rambu Solo Toraja bisa digelar dengan lancar, maka masyarakat Suku Toraja meyakini arwah bisa tenang di alam lain dengan sempurna. Prosesi Ritual Rambu Solo Toraja ini juga terkait dengan posisi arwah orang meninggal. Mereka percaya jika posisi tersebut meliputi arwah gentayangan (Bombo), arwah dengan pencapaian tingkat dewa (To-membali puang), dan Dewa pelindung (Deata).
Prosesi Ritual Rambu Solo Toraja digelar dengan menggunakan beberapa tahapan, termasuk atraksi budaya yang bisa ditonton oleh orang banyak.  Atraksi tersebut meliputi adu kerbau, dimana hewan itu diadu terlebih dahulu sebelum disembelih. Ketika disembelih, ada hal unik yang mengikuti prosesi ini yaitu kerbau disembelih dengan cara menebas leher kerbau tersebut pada saat dalam posisi berdiri. Cara penyembelihan tersebut lasim disebut ma’ tinggoro yang merupakan salah satu ciri khas dalam ritual Rambu solo tersebut.
Selain itu, upacara Ritual Rambu Solo Toraja juga menggunakan kerbau yang spesial karena menyediakan kerbau belang jenis bonga dan saleko yang merupakan jenis kerbau yang memiliki ukuran nilai sosial sangat tinggi. Harga kerbau tersebut mencapai 50 sampai 100 juta rupiah. Semakin tinggi status sosial orang yang meninggal, maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Keluarga dari golongan menengah biasanya menyediakan 8 ekor kerbau yang ditambah 50 ekor babi untuk prosesi Ritual Rambu Solo Toraja. Untuk keluarga bangsawan bahkan kerbau yang disembelih bisa mencapai 24 ekor hingga 100 ekor.
Keunikan lainnya dari upacara Ritual Rambu Solo Toraja adalah adanya prosesi adat yang lasim disabut ma’badong. Ma’badong adalah merupakan nyanyian senandung ratapan yang mengungkapakan kesedihan dari pihak keluarga maupan sahabat dari orang yang telah  meninggal. Prosesi ma’badong dilakukan dengan cara bergandengan tangan membentuk satu lingkaran dengan gerakan khas yang telah menjadi ketentuan sambil menyanyikan senandung ratapan. 

SUKU TORAJA INDONESIA

Suku Toraja Indonesia adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.   Mayoritas suku Toraja Indonesia memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
 Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Ada pula yang mengatakan bahwa Toraja berarti orang keturunan raja. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja Indonesia terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja Indonesia merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Ritual ini merupakan upacara penghormatan terakhir bagi orang yang telah meninggal. Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa- desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, Misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog.
 Masyarakat Suku Toraja Indonesia sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.[5] Identitas etnis Suku Toraja Indonesia memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja Indonesia, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi. “Toraja” (dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran tinggi. [3] Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih banyak memiliki hubungan perdagangan dengan orang luar—seperti suku Bugis dan suku Makassar, yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi—daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa’dan Toraja, dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama—suku Bugis (kaum mayoritas, meliputi pembuat kapal dan pelaut) , suku Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar (pedagang dan nelayan), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).

SUKU TORAJA INDONESIA

Suku Toraja Indonesia adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.   Mayoritas suku Toraja Indonesia memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
 Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Ada pula yang mengatakan bahwa Toraja berarti orang keturunan raja. Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja Indonesia terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja Indonesia merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Ritual ini merupakan upacara penghormatan terakhir bagi orang yang telah meninggal. Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa- desa otonom. Mereka masih menganut animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, Misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun 1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog.
 Masyarakat Suku Toraja Indonesia sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor pariwisata yang terus meningkat.[5] Identitas etnis Suku Toraja Indonesia memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja Indonesia, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi. “Toraja” (dari bahasa pesisir ke, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran tinggi. [3] Akibatnya, pada awalnya “Toraja” lebih banyak memiliki hubungan perdagangan dengan orang luar—seperti suku Bugis dan suku Makassar, yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi—daripada dengan sesama suku di dataran tinggi. Kehadiran misionaris Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa’dan Toraja, dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama—suku Bugis (kaum mayoritas, meliputi pembuat kapal dan pelaut) , suku Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar (pedagang dan nelayan), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).

OBJEK WISATA TANAH TORAJA

Toraja itu suku yang mendiami kabupaten Tana Toraja dan Toraja utara yang provinsinya Sulawesi Selatan. Daerah Tana Toraja berbatasan dengan Kabupaten Luwu di sebelah Timur, Kabupaten Enrekang bagian Selatan, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Polewali, dan bagian utara berbetasan Propinsi Sulawesi Tengah.
Mayoritas agama di Toraja ini adalah Kristen Protestan  sebagiannya lagi Katolik, Islam dan Aluk To dolo, apa itu Aluk To dolo? Aluk to dolo adalah kepercayaan animisme yang masih dianut oleh masyarakat Toraja sampai sekarang.
Dari Makassar ke Toraja itu memakan waktu 8 jam untuk perjalanan darat, yang ingin naik pesawat pun bisa naik pesawat kecil dari Bandara Hassanudin waktu yang ditempuh juga lumayan singkat yaitu 45 menit, Toraja punya tempat wisata, kuliner, kebudayaan yang sangat menarik.
Diantara Objek Wisata Tanah Toraja terdapat objek wisata alam yang unik yaitu Londa, Lemo, dan Tampang Allo tempat dimana anda dapat melihat sebuah pemakaman di dinding berbatu dan gua-gua yang dipenuhi peti mati dan tulang belulang manusia. Anda juga boleh masuk ke dalam gua tapi jangan sesekali ambil tulang belulang mereka. Ada juga kuburan untuk bayi, letaknya di dekat Sangalla. Kepercayaan Toraja kuno meyakini bahwa bayi dan anak-anak yang mati harus dikubur di sebuah pohon, dimana pohon akan tumbuh di sekitar mayat. Kuburan bayi pada subuah pohon dikenal dengan nama passilliran. Objek wisata tanah toraja lainnya adalah Pallawa yaitu pusat tenun Toraja dan desa adat untuk melihat rumah tradisional Tongkonan disana juga ada kawasan penguburan sekaligus tempat untuk melakukan upacara serta festival, ada beberapa pedagang yang juga menyediakan beberapa oleh-oleh khas toraja. Selanjutnya Batu Tumonga objek wisata tanah toraja selanjutnya yang tidak boleh dilewatkan, karena tempat ini menyajikan pemandangan sawah dan batu-batu megalitik besar.Batu Tumonga terletak di Gunung Sesean yang merupakan Gunung tertinggi di Tanah Toraja.
Selain Wisata Alam  Objek Wisata Tanah Toraja juga berupa wisata budaya. Karena masih memegang teguh adat istiadat Tana Toraja, masyarakat Toraja selalu mengadakan upacara adat seperti Rambu Solo (upacara pemakaman), Rambu Tuka (upacara pernikahan), dan Mangarara  Tongkonan (peresmian rumah keluarga). Rambu Solo terlihat seperti pesta besar yang meriah namun sebenarnya Rambu Solo merupakan upacara pemakaman, keluarga yang ditinggal wajib menggelar pesta sebagai tanda penghormatan terakhir. Rambu Solo akan semakin meriah jika orang yang meninggal adalah bangsawan atau orang kaya. Hewan-hewan yang disembelih berupa kerbau dan babi, jumlah hewan yang disembelih menjadi ukuran tingkat kekayaan mereka saat masih hidup.Rambu solo sudah sangat dikenal dikalangan wisatawan baik domestik maupun mancanegara sebagai salah satu objek wisata tanah toraja yang unik dan menarik.  Beralih dari Rambu Solo ada Rambu Tuka upacara ini semacam upacara selamatan baik itu pernikahan, syukuran panen atau peresmian Tongkonan baru. Berbeda dengan Rambu Solo, tidak ada kesedihan di dalam upacara ini. Kalau untuk Mangarara Tongkonan tidak jauh beda dengan Rambu Tuka karena Mangarara Tonkonan adalah bagian dari Rambu Tuka, merayakan selamatan Tongkonan baru atau Tongkonan yang sudah selesai direnovasi. Biasanya yang direnovasi adalah atap yang biasanya diganti 40 tahun  sekali serta dindingnya yang diganti 100 tahun sekali, renovasi ini memakan waktu 6 bulan. Upacara-upacara ini juga bisa dijadikan tempat wisata, banyak turis asing yang ikut menyaksikannya. Tongkonan itu rumah adat khas Toraja yang atapnya terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk, tapi ada juga yang menggunakan seng sebagai atapnya. Untuk dindingnya dihiasi pola abstrak dan geometris dengan warna alami merah, dan putih. Hiasan tersebut dinamakan passura’ yang mempunyai makna budaya yang sangat dalam. Ini melambangkan status sosial rumpun yang ada di tongkonan tersebut.
Itulah sekilas dari sekian banyak gambaran tentang daya tarik objek wisata tanah toraja. Objek wisata tanah toraja memang merupakan tujuan wisata yang sangat menarik dan patut untuk dikunjungi. Dengan berwisata ke tanah toraja anda dapat menyaksikan keindahan objek wiasata alam serta keunikan budaya yang masih kental dilestarikan secara turun temurun oleh masyarakat tanah toraja. Objek wisata tanah toraja juga merupakan salah satu kebangggan dan  aset dibidang wisata Indonesia yang telah terkenal di mancanegara.